LAPORAN
PRAKTIKUM
TEKNIK
PENGOLAHAN LAHAN BASAH DAN GAMBUT
Di
Rasau Jaya II
DOSEN
KOORDINATOR MATAKULIAH
Prof.
Dr. Ir. H. Saeri Sagiman, M.Sc
DOSEN
PENGAJAR
Dr.Ir.
Gusti Zakaria A, MES
Dr.Ir.Urai
Edi Suryadi, MP
Di
Susun Oleh :
Kelompok
:
NIKO PAULUS ( C51112076 )
|
MARTOYO ( C51112069 )
|
UNIVERSITA
TANJUNGPURA
FAKULTAS
PERTANIAN
2014
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan ke khadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan
praktikum mata kuliah teknik pengolahan lahan basah dan gambut. Laporan ini
merupakan salah satu laporan praktikum yang wajib dilaporkan untuk
menyelesaikan mata kuliah teknik pengolahan lahan basah dan gambut. Tidak lupa
penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. H. Saeri
Sagiman, M.Sc selaku dosen koordinator mata kuliah teknik pengolahan lahan
basah dan gambut dan Bapak Dr.Ir. Gusti Zakaria A, MES dan Dr.Ir.Urai Edi
Suryadi, MP selaku dosen pengajar mata kuliah teknik pengolahan lahan basah dan
gambut serta pihak-pihak
yang baik secara langsung maupun tidak langsung, yang telah membantu penulis
dalam proses penyusunan penulisan makalah ini dari awal hingga akhir.
Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan-kekurangan, baik dari materi maupun teknik penyajian, untuk itu
kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari teman-teman
sekalian. Akhir kata penulis menyampaikan terima kasih.
Pontianak, 13 juni 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................. i
BAB I. PENDAHULUAN
.......................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2
Tujuan
..................................................................................................... .. 1
1.3
Gambaran Umum ...................................................................................... 2
1.4
Metode Praktek
......................................................................................... 3
BAB II. HASIL
PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN ...................................... 4
2.1
Hasil Pelaksanaan
..................................................................................... 4
2.2Pembahasan
............................................................................................... 4
a. Budi
Daya Pare .................................................................................. 4
b. Klasifikasi
Tanaman Pare
................................................................... 6
c. Deskripsi
Tanaman Pare ..................................................................... 6
d. Jenis-jenis
Pare
................................................................................... 7
e. Syarat
Tumbuh
................................................................................... 7
f. Pengolahan
Tanah .............................................................................. 8
g. Benih/Bibit
......................................................................................... 8
h. Penanaman
......................................................................................... 9
i.
Pemeliharanan
................................................................................... . 9
j.
Pemupukan
........................................................................................ . 10
k. Pembuatan
Turus dan Para-para ........................................................ 11
l.
Panen
................................................................................................. . 12
m. Pasca
Panen
....................................................................................... . 13
BAB III. PENUTUP
.................................................................................................... 14
3.1
Kesimpulan ................................................................................................ 14
3.2
Saran
.......................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA
.................................................................................................. 15
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Beakang
Potensi lahan gambut sebagai lahan
pertanian di Indonesia cukup luas sekitar 6 juta ha. Pemanfaatannya sebagai
lahan pertanian memerlukan perencanaan yang cermat dan teliti, penerapan
teknologi yang sesuai, dan pengelolaan yang tepat karena ekosistemnya yang
marginal dan fragile. Lahan gambut sangat rentan terhadap kerusakan lahan,
yaitu kerusakan fisik (subsiden dan irriversible drying) serta kerusakan kimia
(defisiensi hara dan unsur beracun). Pengembangan pertanian di lahan gambut
menghadapi kendala antara lain tingginya asam-asam organik. Pengaruh buruk
asam-asam organik yang beracun dapat dikurangi dengan teknologi pengelolaan air
dan menambahkan bahan-bahan yang banyak mengandung kation polivalen seperti Fe,
Al, Cu dan Zn. Kahat unsur harauntuk memberikan hasil yang optimal pada sistem
usahatani dapat dilakukan dengan tindakan ameliorasi dan pemupukan.
Lahan gambut memiliki beberapa
fungsi strategis, seperti fungsi hidrologis, sebagai penambat (sequester) karbon
dan biodiversitas yang penting untuk kenyamanan lingkungan dan kehidupan satwa.
Lahan gambut tergolong lahan marginal dan ”fragile” dengan produktivitas
biasanya rendah dan sangat mudah mengalami kerusakan. Pengembangan pertanian
pada lahan rawa gambut untuk menunjang pembangunan berkelanjutan memerlukan
perencanaan yang cermat dan teliti, penerapan teknologi yang sesuai, dan
pengelolaan yang tepat. Konservasi dan optimalisasi pemanfaatan lahan rawa
gambut sesuai dengan karakteristiknya memerlukan informasi mengenai tipe,
karakteristik, dan penyebarannya.
1.2 Tujuan
Pengolahan
lahan gambut pada umumnya mengingat lahan gambut cukup luas di Indonesia dan
semakin sempitnya lahan area pertanian di tanah mineral, lahan gambutlah
menjadi salah satu alternatif lahan yang dapat dikelola untuk budidaya
pertanian.
1.3 Gambaran Umum
Kerberhasilan usaha
pertanian dan mitigasi GRK dari lahan gambut sangat dipengaruhi oleh berbagai
sifat tanah gambut dan cara pengelolaan air, tanah dan lingkungannya.
1)
Teknologi pengelolaan air harus
disesuaikan dengan karakteristik gambut dan jenis tanaman. Untuk mendukung
pertumbuhan tanaman pangan pada lahan gambut diperlukan pembuatan saluran
drainase mikro sedalam 10-50 cm sedangkan untuk tanaman padi sawah di tanah
gambut membutuhkan parit sedalam 10-30 cm. Tujuan dari pembuatan parit/drainase
adalah untuk membuang kelebihan air sehingga akan tercipta keadaan tidak
jenuh untuk pernapasan akar tanaman, dan mencuci sebagian asam-asam organik.
Akan tetapi fungsi drainase justru akan mempercepat laju dekomposisi dan
subsidensi apabila salurannya semakin dalam dan lebar karena tanah gambut
bersifat tak balik (irreversible) sehingga daya retensi air menurun dan
peka terhadap erosi, yang mengakibatkan hara tanaman mudah tercuci; selain itu
juga akan menyebabkan penurunan permukaan tanah (subsidence) setelah
dilakukan pengeringan atau dimanfaatkan untuk budidaya tanaman;
2)
Pengelolaan tanah dalam upaya
pemanfaatan lahan gambut sebagai lahan pertanian harus berdasarkan pada konsep
menyehatkan tanah terlebih dahulu.
Pengembangan lahan
gambut sebagai lahan pertanian terdapat berbagai kendala baik fisik, kimia
maupun biologis. Lahan gambut merupakan lahan yang sangat fragile dan
produktivitasnya sangat rendah. Kendala sifat fisik gambut yang paling utama
adalah sifat kering tidak balik (irriversible drying), sehingga gambut tidak
dapat berfungsi lagi sebagai koloid organik. Produktivitas lahan gambut yang
rendah karena rendahnya kandungan unsur hara makro maupun mikro yang tersedia
untuk tanaman, tingkat kemasaman tinggi, serta rendahnya kejenuhan basa.
Tingkat marginalitas dan fragilitas lahan gambut sangat ditentukan oleh
sifat-sifat gambut yang inherent, baik sifat fisik, kimia maupun biologisnya.
Tanah gambut berbeda
dengan tanah mineral dalam hal kandungan Corg, struktur, berat isi, sebaran
karbon dalam profil tanah dan tingkat kemudahannya terbakar dan teroksidasi.
Dengan demikian alat yang digunakan untuk pengambilan contoh tanah dan
kedalaman tanah yang harus diambil contohnya di lapangan juga berbeda. Kematangan gambut berguna untuk
menaksir kesuburan dan kandungan karbon gambut. Gambut yang lebih matang
biasanya lebih subur, walaupun banyak faktor lain yang menentukan kesuburan gambut,
misalnya campuran liat dan abu. Gambut yang lebih matang juga mempunyai
kandungan karbon per volume tanahyang lebih tinggi.
1.4 Metode Praktek
a. Lokasi
dan Objek pengamatan
Lahan Usaha Tani Kelompok Tani Maju
Jaya di Jalan Pancasila RT.02/RW.03 Dusun Banjar Sari Desa Rasau Jaya II
Kabupaten Kubu Raya.
b. Metode
kerja
1. Mengunjungi
lokasi lahan gambut yang digunakan
petani untuk kegiatan budidaya.
2. Mewawancarai
petani dengan konsep pengolahan lahan gambut.
3. Mencatat
hasil wawancara dan dilaporkan sebagai laporan dari hasil praktikum.
BAB
II
HASIL
PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
2.1 Hasil Pelaksanaan
Hasil
pelaksanaan merupakan hasil dari wawancara petani yang dimana sebagai
narasumber pengolahan lahan basah dan gambut untuk kegiatan usaha tani atau
budidaya.
No
|
Narasumber
|
Jenis tanaman
|
Pengolahan tanah
|
Bahan amelioran
|
Hasil produksi (kg/ha)
|
1
|
Pak
Sukarno
|
Pare
|
Mekanik
|
Dolomit
|
200
|
2.2 Pembahasan
A. Budi
Daya Pare
Dari hasil wawancara pada saat
praktikum dilapangan bahwa di temukan ada beberapa metode pengolahan lahan
basah dan gambut. Metode yang sering dilakukan oleh petani di Rasau Jaya II,
yaitu dengan metode pengolahan tanah dengan cara mekanik dan pengairan irigasi
sederhana yang belum terlalu tepat dalam pengolahan lahan basah dan gambut.
Bahan amelioran untuk memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah petani
di Rasau Jaya II menggunakan kapur dolomit dan sejenisnya seperti abu dari
sekam padi, bahan amelioran lainnya sebagai bahan penunjang untuk menyuburan
tanah petani di Rasau Jaya II menggunakan pupuk kandang, kotoran ayam dan
beberapa jenis pupuk buatan dari prabik seperti pupuk, TSP, KCL, SP36, dan Urea
yang umum dan sering digunakan petani. Usaha tani yang dikembangkan petani
Rasau Jaya II adalah usaha tanaman hortikultura, tanaman pangan, dan tanaman
perkebunan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengolahan lahan
gambut tergantung pada ketebalan pada gambut, lahan gambut yang dimanfaatkan
oleh petani di Rasau Jaya II beragam ketebalan gambut, pada lahan gambut yang
memiliki ketebalan 30-60 dimanfaatkan sebagai lahan untuk budidaya tanaman
hortikultura dan tanaman pangan sedangkan untuk gambut dengan ketebalan 60-100
cm dimanfaat sebagai lahan tanaman perkebunan.
Tanaman pare
mudah dibudidayakan serta tumbuhnya tidak tergantung musim. Sehingga tanaman
pare dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, atau ditanam di pekarangan
dengan dirambatkan di pagar, untuk diambil buahnya. ditanam di lahan
pekarangan, atau tegalan, atau di sawah bekas padi sebagai penyelang pada musim
kemarau. Melihat khasiat dan kegunaan yang cukup banyak dari tanaman pare serta
budidayanya yang tergolong mudah maka budidaya tanaman pare perlu dilakukan.
Tanaman pare sudah banyak dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia. Pada
praktikum teknik pengolahan lahan basah dan gambut kami menemukan tanaman pare
di budidayakan pada lahan tanah bergambut. Pare merupakan tanaman yang mudah
untuk dibudidayakan serta tumbuh tidak bergantung pada musim.
Tanaman pare merupakan tanaman
sayuran buah yang mempunyai nilai kegunaan yang cukup tinggi bagi kesehatan
manusia. Tingkat kesesuaian tumbuh tanaman pare yang cukup tinggi ini
mengakibatkan tanaman pare dapat tumbuh dimana saja termasuk di lahan gambut.
Gambut pada lahan yang dimiliki pak
Sukarno sekarang menjadi tanah aluvial karena dari pengolahan tanah yang
dilakukan pak Sukarno, maka gambut yang ada terkikis dan hilang terbawa air
yang di pengaruhi oleh air hujan. Lahan pak Sukarno ini memiliki saluran
irigasi sederhana. Lahan gambut yang menjadi lahan budi daya yang dikelola oleh
pak Sukarno ini di tanami beberapa jenis tanaman hortikutura, yang dimana pada
saat kami melakukan wawancara jenis tanaman hortikultara yang di budi dayakan
oleh pak Sukarno pada saat praktikum adalah tanaman vare. Budi daya vare yang
diusahakan oleh pak Sukarno ini adalah vare varietas lipa, metode pengolahan
lahan yang dilakukan adalah mekanik dan pupuk untuk meningkatkan hasil produksi
pak Sukarno menggunakkan beberapa macam jenis pupuk yaitu pupuk TSP, POSKA, dan
kotoran ayam. Luas lahan yang digunakan pak Sukarno sebagai lahan budi daya
pertanian 500 m2, dengan luas lahan tersebut di tanami vare dengan
jarak tanam 1 m x 80 cm dan ditumpang sarikan dengan tanaman lainan seperti
gambes dengan jarang tanam 60 x 60 cm, dengan luas lahan 500 m2 pak
Sukarno memperoleh hasil satu kali pemanen 200 kg buah vare. Kendala yang di
hadapi pak Sukarno pada usaha budi daya vare ini adalah gangguan dari hama lalat
buah yang mengakibatkan kualitas dan kuantitas buah tidak bagus, upaya
pengendalian lalat buah pak Sukarno menggunakan insektisida.
B. Klasifikasi Tanaman Pare
Adapun klasifikasi dari tanaman
pare (momordica charantia L.) adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Famili : Cucurbitaceae
Genus : momordica
Spesies : Momordica
charantia L.
C.
Deskripsi
tanaman pare :
Tanaman pare (Momordica
charabtia) berasal dari kawasan Asia Tropis. Pare tergolong tanaman semak
semusim, yang hidupnya menjalar atau merambat, dengan sulur berbentuk spiral.
Daunnya tunggal, berbulu, berbentuk lekuk tangan, dan bertangkai sepanjang 10
cm. Bunganya berwarna kuning-muda. Batangnya berwarna hijau, massif, mempunyai
rusuk lima, berbulu agak kasar ketika masih muda, namun setelah tua gundul,.
Buahnya buni, bulat telur memanjang, warna hijau, kuning sampai jingga, dan
rasanya pahit. Biji keras, warna cokelat kekuningan.
Hasil wawancara yang kami mendapatkan
beberapa cara dan metode pengolahan lahan basah dan gambut yang dilakukan oleh
pak Sukarno dalam mengupayakan pengolahan lahan gambut sebagai lahan budi daya
pertanian. Kebun vare yang dimiliki pak Sukarno, pengolahan tanah yang
dilakukan pak Sukarno adalah dengan cara mekanik dan bahan amelioran yang
digunakan pak Sukarno yaitu kapur dolomit. Lahan gambut yang digunakan pak
Sukarno sekarang menjadi lahan yang berstruktur tanah alluvial, dari pengamatan
dilapangan diperkirakan lahan gambut yang digunakan pak Sukarno sebagai lahan
pertanian yaitu 10-30 cm.
D. Jenis-jenis
Pare
Beberapa jenis pare yang ada dan
sering dibudidayakan antara lain:
1.
Pare Gajih
Pare ini paling banyak
dibudidayakan dan paling disukai. Pare ini biasa disebut pare putih atau pare mentega. Bentuk buahnya panjang dengan
ukuran 30 - 50 cm diameter 3 - 7
cm, berat rata-rata antara 200-500 gram/ buah. Pare ini berasal dari India, Africa.
2.
Pare Hijau
Pare hijau berbentuk lonjong, kecil
dan berwarna hijau dengan bintil-bintil agak halus. Pare ini banyak sekali macamnya, diantaranya pare ayam,
pare kodok, pare alas atau pare
ginggae. Dari berbagai jenis tersebut paling banyak ditanam adalah pare ayam. Buah pare ayam mempunyai panjang 15 -
20 cm. Sedangkan pare ginggae buahnya kecil hanya sekitar 5 cm. Rasanya pahit dan daging buahnya tipis. Pare
hijau ini mudah sekali pemeliharaannya,
tanpa lanjaran atau para-para tanaman pare hijau ini dapat tumbuh dengan baik.
E. Syarat
Tumbuh
Pare mempunyai daya adaptasi tumbuh
yang cukup tinggi dan dapat menyesuaikan diri terhadap iklim yang berlainan
baik suhu dan curah hujan yang tinggi. Hijau sepanjang tahun dan tidak
tergantung musim. Membutuhkan drainase tanah yang cukup baik. Memerlukan tanah
yang gembur dan banyak mengandung bahan organik Memerlukan PH antara 5 – 6. Ketinggian
antara 1 meter hingga 1500 meter dpl.
F. Pengolahan Tanah
Tanah yang akan ditanami pare
diolah terlebih dahulu dengan membersihkan dari tanaman lain seperti rumput dan
mencangkul tanah agar gembur, minimal 10 hari sebelum tanaman pare ditanam. Buat
guludan dengan ukuran lebar 80 cm sampai dengan 120 cm, sedangkan panjangnya
dapat mencapai 10 meter atau disesuaikan dengan kondisi lahan yang ada. Antara
guludan satu dengan guludan yang lainnya dibuat parit dengan lebar 80 cm dan
kedalaman 30 cm. Arah pembuatan guludan sebaiknya membujur dari utara ke
selatan dengan maksud agar tanaman mendapat sinar matahari langsung dan penuh
untuk proses fotosintesa. Buat lubang tanam dengan panjang 25 cm, lebar 25 cm
dan dalam 25 cm (25x25x25) atau bisa juga dengan ukuran 50 x 50 x 50. Jarak
antar lubang tanam 1 m x 80 cm atau 100 cm x 100 cm.
G. Benih/Bibit
Ada dua jenis benih yang dapat
dipakai untuk penanaman pare. Jenis pertama adalah benih/ biji yang langsung
ditanam dilapang dan yang kedua adalah benih yang telah melalui proses
persemaian. Pemakaian kedua jenis ini tergantung pada musim dimana penanaman
akan dilakukan. Kalau penanaman dilakukan pada musim penghujan lebih baik
penanaman dilakukan dengan menggunakan benih/ biji langsung, karena daya tumbuh
benih dilapang pada kondisi tersebut dapat baik. Sedangkan apabila penanaman
dilakukan pada musim kemarau sebaiknya penanaman dilakukan dengan menggunakan
benih yang telah disemai terlebih dahulu, karena akan terjamin daya tumbuh
benih yang akan ditanam dilapang.
Benih sebaiknya ditanam berasal
dari tanaman yang sehat, kuat dan mempunyai tingkat produktifitas yang tinggi.
Untuk itu disarankan memakai benih yang telah berlabel yang telah
direkomendasikan oleh Balai Pengendalian Mutu dan Sertifikasi Benih. Jumlah
kebutuhan benih dilapang sebaiknya ditambah 10% dari kebutuhan normal. Misalnya
kebutuhan benih untuk 1 Ha dengan jarak tanam 1 x 1 meter lebar guludan 150 cm,
panjang guludan 10 meter, maka kebutuhan benih yang direkomendasikan sebanyak
9735 biji. Jadi jumlah benih yang harus disediakan sebanyak 9735 + (10% x 9735)
= 10.708 biji atau 2,141 Kg.
H. Penanaman
Penanaman dapat dilakukan melalui
dua cara. Cara pertama benih/ biji langsung ditanam dan cara kedua benih
disemaikan terlebih dahulu ditempat terpisah sampai benih tersebut tumbuh
beberapa helai daun, baru di pindah dilapang.
I. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman dilakukan
untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pemeliharaan tanaman pare dilapang
meliputi penyiangan, penyulaman, pembumbunan, pemangkasan, pembungkusan,
pembebanan, pembuatan turus dan para-para.
a. Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk
membersihkan semua jenis tanaman yang tumbuh selain tanaman pare. Tanaman jenis
lain dapat berupa rumput-rumputan, gulma, dan tanaman lainnya. Pembersihan ini
dilakukan disekitar batang/ akar tanaman atau diantara parit-parit yang ada
dengan menggunakan tangan (dicabut), kored atau cangkul. Penyiangan tanaman
dilakukan untuk mengurangi atau menghindari persaingan antara tanaman pare yang
ditanam dengan jenis tanaman lain yang mungkin tumbuh disekitar tanaman pare
dalam penyerapan unsur-unsur hara, air dan matahari. Disamping itu penyiangan
dilakukan untuk menghindari kemungkinan tumbuhnya hama dan penyakit yang
mungkin timbul dari tanaman yang tumbuh selain tanaman pare.
b. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan untuk
menaikkan tanah yang ada disekitar tanaman pare agar akar tanaman dapat
tertutup. Pembumbunan dilakukan setelah penyiangan dilakukan dengan
maksud untuk memperbaiki aerasi tanah sekitar akar yang menjadi padat akibat siraman
air hujan atau air siraman tanaman.
c. Penyulaman
Oleh karena pada waktu penanaman
ada benih yang tidak tumbuh yang diakibatkan oleh beberapa faktor seperti
kualitas benih, daya tumbuh benih, kondisi tanah, atau serangan hama, maka tanaman yang
tidak tumbuh tersebut perlu diganti dengan tanaman lain yang sehat dan kuat
(disulam). Penyulaman
dilakukan sebaiknya pada waktu bibit tanaman berumur 7 - 10 hari setelah tanam.
d. Pemangkasan
Pemangkasan tanaman pare dilakukan
untuk mengontrol pertumbuhan batang utama. Tinggi ideal batang utama tanaman
pare adalah 2 - 3 meter. Jika panjangnya melebih dari itu, tanaman tidak produktif
lagi oleh karena itu tanaman perlu dipangkas. Tunas yang akan tumbuh dari hasil
pemangkasan tersebut dialihkan kesamping melalui para-para. Sebagai awal perambatan
tunas yang tumbuh tersebut dapat digunakan tali.
e. Pembungkusan
Untuk menghasilkan buah pare yang
mulus dan permukaan kulit tidak bolong, maka sebaiknya dilakukan pencegahan melalui
pembungkusan buah pare. Tindakan pembungkusan buah pare ini dimaksudkan
adalah untuk mencegah serangan lalat buah yang menyerang buah pare pada waktu
usia muda. Bahan pembungkus dapat digunakan pembungkusan adalah pada waktu tanaman
telah menghasilkan buah pare dengan ukuran batang korek api, atau kurang lebih
berumur kira-kira 1,5 bulan.
J. Pemupukan
Salah satu bagian dari pemeliharaan
tanaman pare adalah pemupukan. Pemupukan
dilakukan untuk mendapatkan tanaman sehat, kuat dan dapat berproduksi sesuai dengan potensi yang ada dalam
tanaman tersebut. Pemupukan dasar dilakukan pada 1 - 2 minggu sebelum tanaman pare ditanam, atau dilakukan
pada saat pengolahan tanah atau
pada waktu pembuatan lubang tanam. Beberapa petani sayuran di Rasau Jaya II,
pemberian pupuk dasar dilakukan dengan cara membenamkan sebanyak 2 - 3 kg pupuk kandang yang sudah matang
kedalam lubang tanam dan biasanya ditambah 15 - 20 gram pupuk NPK perlubang tanam. Pemupukan susulan pertama dilakukan setelah tanaman telah berumur
3 minggu.
Dosis pemupukan diberikan sangat
tergantung pada jenis tanah dan iklim setempat dimana tanaman pare ditanam. Untuk jenis tanah yang berpasir
kombinasi pupuk urea, TSP, dan
KCI yang diberikan sebaiknya dengan perbandingan 1 : 2 : 2, sedangkan untuk jenis tanah liat sebaiknya diberikan
pupuk dengan kombinasi urea, TSP, dan KCl sebanyak 1 : 2 : 1. Pengalaman dari petani Bambu Apus, Jakarta
Timur kombinasi urea, TSP dan
KCl diberikan sebanyak 2 : 2 : 8. Setiap tanaman diberikan sebanyak 10 – 15 gram/pertanaman. Jadi apabila diberikan
10 gram pertanaman maka banyaknya urea,
TSP dan KCl yang diberikan pada perbandingan 1 : 2 : 2 adalah urea
sebanyak 20 Gram, TSP 40 dan KCl
40 gram. Demikian halnya dengan kombinasi 1: 2 : 1, Urea diberikan 2,5 gram, TSP 5 gram dan KCl 2,5 gram. Pupuk susulan kedua diberikan 2
minggu setelah pemupukan susulan pertama dilakukan.
Banyaknya pupuk yang diberikan 0,5
dari dosis yang diberikan pada pemupukan susulan Pertama. Dapat juga diberikan
tambahan pupuk seperti NPK. NPK diberikan
2 minggu setelah pemupukan susulan pertama dilakukan dan dilanjutkan dengan interval dua minggu sampai
tanaman pare berumur empat bulan. Dosis NPK yang diberikan sebanyak 5 gram pertanaman. Penempatan pupuk yang diberikan kepada tanaman pare adalah
ber-jarak antara 10 - 15 cm dari akar dan kedalaman 3-5 cm.
K. Pembuatan Turus dan Para-para
Tanaman pare merupakan tanaman yang
merambat dan menjalar, oleh karena itu diperlukan
suatu tempat dimana nantinya buah pare tersebut dapat bergantung dengan baik, sehingga pertumbuhan buah pare
dapat maksimal. Turus dibuat
untuk memanjat batang utama pare, sedangkan para-para digunakan untuk menjalarnya tunas-tunas dari
batang utama yang nantinya akan menghasilkan buah pare. Tinggi turus dan para-para berkisar 1,5 sampai 2 meter. Hal
ini dengan mempertimbangkan agar
mudah dalam pemeliharaan tanaman terutama pada waktu panen dan mudah dalam melakukan penyiangan dan pembumbunan serta
mudah dalam mengontrol tanaman
dari gangguan hama dan penyakit tanaman.
Berbagai macam cara dan bentuk pembuatan turus dan para-para. Bahan yang dipakai sebaiknya bambu dengan ukuran
sedang. Sebagai penghubung antara tanaman satu dengan yang lainnya diberikan tali.
L. Panen
Pemetikan buah pare sangat
tergantung pada pemanfaatan buah pare tersebut. Apabila pare yang akan dipanen digunakan untuk konsumsi maka
sebaiknya pilih pare yang
bintil-bintil dan keriputnya masih agak rapat dengan galur-galur yang belum
melebar. Panjangnya antara 25-30
cm dan diameternya 3-5 cm. Apabila pare yang dipetik digunakan untuk benih maka pilih pare yang besar, sehat dan
matang sempurna. Tanaman pare
yang telah berumur 1,5 bulan biasanya telah berbunga dan diharapkan 1 bulan
kemudian buah pertama dapat dipetik. Untuk panen kedua, ketiga dan seterusnya
dengan interval 6 - 7 hari. Kalau keadaan tanaman subur maka tanaman pare dapat
di panen selama 4 bulan.
Cara pemanenan harus diperhatikan
dengan baik karena hal ini menentukan kualitas tanaman pare yang akan
dipasarkan. Pemetikan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan alat potong yang
tajam. Hindari dengan cara menarik atau memilin tangkai pare, karena dapat
menyebabkan memar pada tangkai yang pada akhirnya akan menarik cendawan atau
penyakit lain kedalam bagian tangkai yang memar tadi. Hasil pemetikan ditaruh
keranjang atau tempat yang bersih dan disusun dengan berselang-seling dan sejajar.
M. Pasca Panen
Setelah dipetik sebaiknya pare
sudah mulai ditaruh pada suatu wadah. Untuk keperluan pasar tradisional
sebaiknya digunakan karung-karung yang bersih. Pare disusun berdiri dalam
karung, hal ini menghindari pare tertimbun dengan beban berat diatasnya. Pada
waktu mengangkat atau menaruh jangan sampai dilempar untuk menghindari memar
pada tanaman pare. Untuk memenuhi konsumsi pasar supermarket sebaiknya dikemas
dengan menggunakan plastik tipis dan tembus pandang. Sebelum dikemas dengan
plastik sebaiknya pare dibersihkan dari kotoran yang menempel pada pare,
sehingga diharapkan penampilannya baik bersih dan rapi.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari
hasil praktikum dan laporan yang kami buat ini dapat di simpulkan sebagai
berikut :
1. Belum
ada teknologi yang tepat untuk pengolahan lahan gambut sebagai lahan budi daya
perkebunan seperti kelapa sawit dalam meningkatkan hasil produksi.
2. Kurangnya
perhatian pemerintah dalam pengolahan lahan gambut sebagai lahan budi daya
pertanian, tidak ada penyuluhan yang bergerak dalam pengolahan lahan gambut
sebagi lahan pertanian.
3. Minimnya
pengetahuan petani dalam pengolahan lahan gambut
4. Tata
air dan drainase belum dapat menjaga keseimbangan tanah gambut.
3.2 Saran
Sebaiknya
dalam melakukan praktikum teknik pengolahan lahan basah dan gambut ini
mahasiswa/i di bagi dalam melakukan praktikum satu kelas yang di bagi menjadi
beberapa kelompok agar praktikum dengan tertib dan memudahkan mahasiswa/i untuk
melakukan wawancara dengan petani.
DAFTAR
PUSTAKA
Agus Fahmuddin,
Hairiah Kurniatun, dan Mulyani Anny. 2011. Pengukuran Cadangan Karbon Tanah
Gambut. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Instalasi
Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. 1996. Usaha tani
tanaman pare.
Kartikawat.R dan
Setyanto.P.2011. Ameliorasi Tanah Gambut
Meningkatkan Produksi Padi Dan Menekan Emisi Gas Rumah Kaca Balai Penelitian
Lingkungan Pertanian, Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.
Lingga, P. 1986. Petunjuk penggunaan pupuk. PT. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Noor, M. 2000. Pertanian
lahan gambut: potensi dan kendala. Kanisius, Yogyakarta.
Prastowo, K.,
Moersidi S., Edi Santoso dan L. H. Sibuea. 1993. Pengaruh kompos
diperkaya dengan pupuk Urea, TSP, P-Alam, KCl dan Kapur terhadap tanaman. Prosiding Pertemuan
Teknis. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.
Ratmini,
Sri.2012.Karakteristik dan Pengelolaan
Lahan Gambut untuk Pengembangan Pertanian. Pusat
Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya
Palembang.
Rukmana R. 1997. Budidaya Pare.
Yogyakarta : Kanisius.
Sasli, Iwan.
2011. Karakterisasi Gambut dengan Berbagi Bahan Amelioran dan Pengaruhnya
Terhadap Sifat Fisik dan Kimia Guna Mendukung Produktivitas Lahan Gambut.
Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura.
Sastrapradja S.
1977. Sayur-sayuran, Pare Pahit (Momordica charantia L.) Bogor : Lembaga
Biologi Nasional-LIPI.
LAMPIRAN
GAMBAR PRAKTIKUM
Kebun
vare ( milik pak Sukarno )
saluran
drainase