Jumat, 27 Mei 2016

Flora dan Fauna Khas Kalimantan Barat.



Flora dan Fauna Khas Kalimantan Barat.

Flora dan Fauna Khas Provinsi Kalimantan Barat adalah Pohon Tengkawang (Shorea spp) sebagai Flora Khas Kalimantan Barat dan Enggang gading (Buceros/rhinoplax vigil)  sebagai Fauna Khas Kalimantan Barat.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDpLOiEC5UPOCsMBIiChGqIDqGv8A4cl_DU6SVBQvwhtnxNcTeVZnXSLqXejAM29orhgQpEOSHNbAuM2CMULLTdPilrP3exgUqfvr0WR01lXjnesbqGyoRaUaTVhlpkGj2pWa4ZWX1cKY/s640/enggang-yang-terancam-punah.jpg

Tengkawang Flora Identitas Kalimantan Barat
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSJqog5SPtSe50MddeUpu7RBLFwSPeLYtCcoMy1iZCFaqQD9T4a1dRl2iruF2EHuX3FMPa0ChqCue3Qa7YixtcV4buFleRkYC-5EbbzBGAIeUmpNVqdwCKhBomYkX-48LzQ2i0CkGVgtQ/s200/pohon-tengkawang.jpg
Tengkawang (Shorea spp.) adalah nama buah dan pohon dari genus Shoreayang buahnya menghasilkan minyak nabati. Pohon Tengkawang hanya terdapat di pulau Kalimantan dan sebagian kecil Sumatera. Dalam bahasa Inggris, flora (tanaman) langka ini dikenal sebagaiIllepe Nut atau Borneo Tallow Nut. Pohon yang terdiri atas belasan spesies (13 diantaranya dilindungi dari kepunahan) ini menjadi maskot (flora identitas) provinsi Kalimantan Barat. Pohon Tengkawang yang termasuk dalam golongan kayu kelas tiga (umumnya digolongkan sebagai Meranti Merah) mempunyai ciri-ciri khas dengan pohon yang tinggi besar, mempunyai banyak cabang dan berdaun rimbun. Uniknya tanaman ini tidak tiap tahun berbuah. Tumbuhan ini hanya berbuah sekali dalam periode antara 3-7 tahun yang terjadi sekitar bulan Juni – Agustus. Mungkin lantaran masa berbuahnya yang tidak setiap tahun inilah yang menyebabkan orang jarang yang membudidayakan tumbuhan ini. Pohon Tengkawang yang menjadi maskot Kalimantan Barat ini hampir seluruhnya hidup liar di hutan-hutan.  Bahkan di hutanpun mulai terancam kepunahan.Buah Tengkawang menghasilkan minyak lemak yang berharga tinggi. Minyak Tengkawang dihasilkan dari biji Tengkawang yang telah dijemur hingga kering kemudian ditumbuk dan diperas hingga keluar minyaknya. Secara tradisional, minyak Tengkawang digunakan untuk memasak, penyedap masakan dan untuk ramuan obat-obatan. Dalam dunia industri, minyak tengkawang digunakan sebagai bahan pengganti lemak coklat, bahan farmasi dan kosmetika. Pada masa lalu tengkawang juga dipakai dalam pembuatan lilin, sabun, margarin, pelumas dan sebagainya. Minyak tengkawang juga dikenal sebagai green butter

laporan praktikum sptlbg





LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK PENGOLAHAN LAHAN BASAH DAN GAMBUT
Di Rasau Jaya II
DOSEN KOORDINATOR MATAKULIAH
Prof. Dr. Ir. H. Saeri Sagiman, M.Sc
DOSEN PENGAJAR
Dr.Ir. Gusti Zakaria A, MES
Dr.Ir.Urai Edi Suryadi, MP

download (1) 

Di Susun Oleh :
Kelompok :
NIKO PAULUS ( C51112076 )
MARTOYO ( C51112069 )






UNIVERSITA TANJUNGPURA
FAKULTAS PERTANIAN
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke khadirat Tuhan Yang Maha Esakarena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat  menyelesaikan laporan praktikum mata kuliah teknik pengolahan lahan basah dan gambut. Laporan ini merupakan salah satu laporan praktikum yang wajib dilaporkan untuk menyelesaikan mata kuliah teknik pengolahan lahan basah dan gambut. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. H. Saeri Sagiman, M.Sc selaku dosen koordinator mata kuliah teknik pengolahan lahan basah dan gambut dan Bapak Dr.Ir. Gusti Zakaria A, MES dan Dr.Ir.Urai Edi Suryadi, MP selaku dosen pengajar mata kuliah teknik pengolahan lahan basah dan gambut serta pihak-pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung, yang telah membantu penulis dalam proses penyusunan penulisan makalah ini dari awal hingga akhir.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah  ini masih banyak kekurangan-kekurangan, baik dari materi maupun teknik penyajian, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari teman-teman sekalian. Akhir kata penulis menyampaikan terima kasih.





Pontianak, 13 juni 2014


Penulis





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................         i
BAB I. PENDAHULUAN ..........................................................................................         1
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................           1
1.2 Tujuan ..................................................................................................... ..          1
1.3 Gambaran Umum ......................................................................................           2
1.4 Metode Praktek .........................................................................................          3
BAB II. HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN ......................................        4
2.1 Hasil Pelaksanaan .....................................................................................           4
2.2Pembahasan ...............................................................................................           4
a.       Budi Daya Pare  ..................................................................................           4
b.      Klasifikasi Tanaman Pare ...................................................................            6
c.       Deskripsi Tanaman Pare .....................................................................            6
d.      Jenis-jenis Pare ...................................................................................            7
e.       Syarat Tumbuh ...................................................................................            7
f.       Pengolahan Tanah ..............................................................................            8
g.      Benih/Bibit .........................................................................................            8
h.      Penanaman .........................................................................................            9
i.        Pemeliharanan ................................................................................... .           9
j.        Pemupukan ........................................................................................            .           10
k.      Pembuatan Turus dan Para-para ........................................................            11
l.        Panen .................................................................................................            .           12
m.    Pasca Panen .......................................................................................            .           13
BAB III. PENUTUP ....................................................................................................         14
3.1 Kesimpulan ................................................................................................          14
3.2 Saran ..........................................................................................................          14
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................         15




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Beakang
Potensi lahan gambut sebagai lahan pertanian di Indonesia cukup luas sekitar 6 juta ha. Pemanfaatannya sebagai lahan pertanian memerlukan perencanaan yang cermat dan teliti, penerapan teknologi yang sesuai, dan pengelolaan yang tepat karena ekosistemnya yang marginal dan fragile. Lahan gambut sangat rentan terhadap kerusakan lahan, yaitu kerusakan fisik (subsiden dan irriversible drying) serta kerusakan kimia (defisiensi hara dan unsur beracun). Pengembangan pertanian di lahan gambut menghadapi kendala antara lain tingginya asam-asam organik. Pengaruh buruk asam-asam organik yang beracun dapat dikurangi dengan teknologi pengelolaan air dan menambahkan bahan-bahan yang banyak mengandung kation polivalen seperti Fe, Al, Cu dan Zn. Kahat unsur harauntuk memberikan hasil yang optimal pada sistem usahatani dapat dilakukan dengan tindakan ameliorasi dan pemupukan.
Lahan gambut memiliki beberapa fungsi strategis, seperti fungsi hidrologis, sebagai penambat (sequester) karbon dan biodiversitas yang penting untuk kenyamanan lingkungan dan kehidupan satwa. Lahan gambut tergolong lahan marginal dan ”fragile” dengan produktivitas biasanya rendah dan sangat mudah mengalami kerusakan. Pengembangan pertanian pada lahan rawa gambut untuk menunjang pembangunan berkelanjutan memerlukan perencanaan yang cermat dan teliti, penerapan teknologi yang sesuai, dan pengelolaan yang tepat. Konservasi dan optimalisasi pemanfaatan lahan rawa gambut sesuai dengan karakteristiknya memerlukan informasi mengenai tipe, karakteristik, dan penyebarannya.
1.2 Tujuan
            Pengolahan lahan gambut pada umumnya mengingat lahan gambut cukup luas di Indonesia dan semakin sempitnya lahan area pertanian di tanah mineral, lahan gambutlah menjadi salah satu alternatif lahan yang dapat dikelola untuk budidaya pertanian.
1.3 Gambaran Umum
Kerberhasilan usaha pertanian dan mitigasi GRK dari lahan gambut sangat dipengaruhi oleh berbagai sifat tanah gambut dan cara pengelolaan air, tanah dan lingkungannya.
1)      Teknologi pengelolaan air harus disesuaikan dengan karakteristik gambut dan jenis tanaman. Untuk mendukung pertumbuhan tanaman pangan pada lahan gambut diperlukan pembuatan saluran drainase mikro sedalam 10-50 cm sedangkan untuk tanaman padi sawah di tanah gambut membutuhkan parit sedalam 10-30 cm. Tujuan dari pembuatan parit/drainase adalah untuk membuang kelebihan air sehingga akan tercipta keadaan tidak jenuh untuk pernapasan akar tanaman, dan mencuci sebagian asam-asam organik. Akan tetapi fungsi drainase justru akan mempercepat laju dekomposisi dan subsidensi apabila salurannya semakin dalam dan lebar karena tanah gambut bersifat tak balik (irreversible) sehingga daya retensi air menurun dan peka terhadap erosi, yang mengakibatkan hara tanaman mudah tercuci; selain itu juga akan menyebabkan penurunan permukaan tanah (subsidence) setelah dilakukan pengeringan atau dimanfaatkan untuk budidaya tanaman;
2)      Pengelolaan tanah dalam upaya pemanfaatan lahan gambut sebagai lahan pertanian harus berdasarkan pada konsep menyehatkan tanah terlebih dahulu.
Pengembangan lahan gambut sebagai lahan pertanian terdapat berbagai kendala baik fisik, kimia maupun biologis. Lahan gambut merupakan lahan yang sangat fragile dan produktivitasnya sangat rendah. Kendala sifat fisik gambut yang paling utama adalah sifat kering tidak balik (irriversible drying), sehingga gambut tidak dapat berfungsi lagi sebagai koloid organik. Produktivitas lahan gambut yang rendah karena rendahnya kandungan unsur hara makro maupun mikro yang tersedia untuk tanaman, tingkat kemasaman tinggi, serta rendahnya kejenuhan basa. Tingkat marginalitas dan fragilitas lahan gambut sangat ditentukan oleh sifat-sifat gambut yang inherent, baik sifat fisik, kimia maupun biologisnya.
Tanah gambut berbeda dengan tanah mineral dalam hal kandungan Corg, struktur, berat isi, sebaran karbon dalam profil tanah dan tingkat kemudahannya terbakar dan teroksidasi. Dengan demikian alat yang digunakan untuk pengambilan contoh tanah dan kedalaman tanah yang harus diambil contohnya di lapangan juga berbeda. Kematangan gambut berguna untuk menaksir kesuburan dan kandungan karbon gambut. Gambut yang lebih matang biasanya lebih subur, walaupun banyak faktor lain yang menentukan kesuburan gambut, misalnya campuran liat dan abu. Gambut yang lebih matang juga mempunyai kandungan karbon per volume tanahyang lebih tinggi.
1.4 Metode Praktek
a.       Lokasi dan Objek pengamatan
Lahan Usaha Tani Kelompok Tani Maju Jaya di Jalan Pancasila RT.02/RW.03 Dusun Banjar Sari Desa Rasau Jaya II Kabupaten Kubu Raya.
b.      Metode kerja
1.      Mengunjungi lokasi lahan gambut yang digunakan  petani untuk kegiatan budidaya.
2.      Mewawancarai petani dengan konsep pengolahan lahan gambut.
3.      Mencatat hasil wawancara dan dilaporkan sebagai laporan dari hasil praktikum.





BAB II
HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
2.1 Hasil Pelaksanaan
            Hasil pelaksanaan merupakan hasil dari wawancara petani yang dimana sebagai narasumber pengolahan lahan basah dan gambut untuk kegiatan usaha tani atau budidaya.
No
Narasumber
Jenis tanaman
Pengolahan tanah
Bahan amelioran
Hasil produksi (kg/ha)
1
Pak Sukarno
Pare
Mekanik
Dolomit
200

2.2 Pembahasan
A.    Budi Daya Pare
Dari hasil wawancara pada saat praktikum dilapangan bahwa di temukan ada beberapa metode pengolahan lahan basah dan gambut. Metode yang sering dilakukan oleh petani di Rasau Jaya II, yaitu dengan metode pengolahan tanah dengan cara mekanik dan pengairan irigasi sederhana yang belum terlalu tepat dalam pengolahan lahan basah dan gambut. Bahan amelioran untuk memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah petani di Rasau Jaya II menggunakan kapur dolomit dan sejenisnya seperti abu dari sekam padi, bahan amelioran lainnya sebagai bahan penunjang untuk menyuburan tanah petani di Rasau Jaya II menggunakan pupuk kandang, kotoran ayam dan beberapa jenis pupuk buatan dari prabik seperti pupuk, TSP, KCL, SP36, dan Urea yang umum dan sering digunakan petani. Usaha tani yang dikembangkan petani Rasau Jaya II adalah usaha tanaman hortikultura, tanaman pangan, dan tanaman perkebunan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengolahan lahan gambut tergantung pada ketebalan pada gambut, lahan gambut yang dimanfaatkan oleh petani di Rasau Jaya II beragam ketebalan gambut, pada lahan gambut yang memiliki ketebalan 30-60 dimanfaatkan sebagai lahan untuk budidaya tanaman hortikultura dan tanaman pangan sedangkan untuk gambut dengan ketebalan 60-100 cm dimanfaat sebagai lahan tanaman perkebunan.
Tanaman pare mudah dibudidayakan serta tumbuhnya tidak tergantung musim. Sehingga tanaman pare dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar, untuk diambil buahnya. ditanam di lahan pekarangan, atau tegalan, atau di sawah bekas padi sebagai penyelang pada musim kemarau. Melihat khasiat dan kegunaan yang cukup banyak dari tanaman pare serta budidayanya yang tergolong mudah maka budidaya tanaman pare perlu dilakukan. Tanaman pare sudah banyak dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia. Pada praktikum teknik pengolahan lahan basah dan gambut kami menemukan tanaman pare di budidayakan pada lahan tanah bergambut. Pare merupakan tanaman yang mudah untuk dibudidayakan serta tumbuh tidak bergantung pada musim.
Tanaman pare merupakan tanaman sayuran buah yang mempunyai nilai kegunaan yang cukup tinggi bagi kesehatan manusia. Tingkat kesesuaian tumbuh tanaman pare yang cukup tinggi ini mengakibatkan tanaman pare dapat tumbuh dimana saja termasuk di lahan gambut.
Gambut pada lahan yang dimiliki pak Sukarno sekarang menjadi tanah aluvial karena dari pengolahan tanah yang dilakukan pak Sukarno, maka gambut yang ada terkikis dan hilang terbawa air yang di pengaruhi oleh air hujan. Lahan pak Sukarno ini memiliki saluran irigasi sederhana. Lahan gambut yang menjadi lahan budi daya yang dikelola oleh pak Sukarno ini di tanami beberapa jenis tanaman hortikutura, yang dimana pada saat kami melakukan wawancara jenis tanaman hortikultara yang di budi dayakan oleh pak Sukarno pada saat praktikum adalah tanaman vare. Budi daya vare yang diusahakan oleh pak Sukarno ini adalah vare varietas lipa, metode pengolahan lahan yang dilakukan adalah mekanik dan pupuk untuk meningkatkan hasil produksi pak Sukarno menggunakkan beberapa macam jenis pupuk yaitu pupuk TSP, POSKA, dan kotoran ayam. Luas lahan yang digunakan pak Sukarno sebagai lahan budi daya pertanian 500 m2, dengan luas lahan tersebut di tanami vare dengan jarak tanam 1 m x 80 cm dan ditumpang sarikan dengan tanaman lainan seperti gambes dengan jarang tanam 60 x 60 cm, dengan luas lahan 500 m2 pak Sukarno memperoleh hasil satu kali pemanen 200 kg buah vare. Kendala yang di hadapi pak Sukarno pada usaha budi daya vare ini adalah gangguan dari hama lalat buah yang mengakibatkan kualitas dan kuantitas buah tidak bagus, upaya pengendalian lalat buah pak Sukarno menggunakan insektisida.
B.     Klasifikasi Tanaman Pare
Adapun klasifikasi dari tanaman pare (momordica charantia L.) adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonae
Famili              : Cucurbitaceae
Genus              : momordica
Spesies            : Momordica charantia L.
C.     Deskripsi tanaman pare :
Tanaman pare (Momordica charabtia) berasal dari kawasan Asia Tropis. Pare tergolong tanaman semak semusim, yang hidupnya menjalar atau merambat, dengan sulur berbentuk spiral. Daunnya tunggal, berbulu, berbentuk lekuk tangan, dan bertangkai sepanjang 10 cm. Bunganya berwarna kuning-muda. Batangnya berwarna hijau, massif, mempunyai rusuk lima, berbulu agak kasar ketika masih muda, namun setelah tua gundul,. Buahnya buni, bulat telur memanjang, warna hijau, kuning sampai jingga, dan rasanya pahit. Biji keras, warna cokelat kekuningan.
Hasil wawancara yang kami mendapatkan beberapa cara dan metode pengolahan lahan basah dan gambut yang dilakukan oleh pak Sukarno dalam mengupayakan pengolahan lahan gambut sebagai lahan budi daya pertanian. Kebun vare yang dimiliki pak Sukarno, pengolahan tanah yang dilakukan pak Sukarno adalah dengan cara mekanik dan bahan amelioran yang digunakan pak Sukarno yaitu kapur dolomit. Lahan gambut yang digunakan pak Sukarno sekarang menjadi lahan yang berstruktur tanah alluvial, dari pengamatan dilapangan diperkirakan lahan gambut yang digunakan pak Sukarno sebagai lahan pertanian yaitu 10-30 cm.
D.    Jenis-jenis Pare
Beberapa jenis pare yang ada dan sering dibudidayakan antara lain:
1.      Pare Gajih
Pare ini paling banyak dibudidayakan dan paling disukai. Pare ini biasa disebut pare putih atau pare mentega. Bentuk buahnya panjang dengan ukuran 30 - 50 cm diameter 3 - 7 cm, berat rata-rata antara 200-500 gram/ buah. Pare ini berasal dari India, Africa.
2.      Pare Hijau
Pare hijau berbentuk lonjong, kecil dan berwarna hijau dengan bintil-bintil agak halus. Pare ini banyak sekali macamnya, diantaranya pare ayam, pare kodok, pare alas atau pare ginggae. Dari berbagai jenis tersebut paling banyak ditanam adalah pare ayam. Buah pare ayam mempunyai panjang 15 - 20 cm. Sedangkan pare ginggae buahnya kecil hanya sekitar 5 cm. Rasanya pahit dan daging buahnya tipis. Pare hijau ini mudah sekali pemeliharaannya, tanpa lanjaran atau para-para tanaman pare hijau ini dapat tumbuh dengan baik.
E.     Syarat Tumbuh
Pare mempunyai daya adaptasi tumbuh yang cukup tinggi dan dapat menyesuaikan diri terhadap iklim yang berlainan baik suhu dan curah hujan yang tinggi. Hijau sepanjang tahun dan tidak tergantung musim. Membutuhkan drainase tanah yang cukup baik. Memerlukan tanah yang gembur dan banyak mengandung bahan organik Memerlukan PH antara 5 – 6. Ketinggian antara 1 meter hingga 1500 meter dpl.
F.      Pengolahan Tanah
Tanah yang akan ditanami pare diolah terlebih dahulu dengan membersihkan dari tanaman lain seperti rumput dan mencangkul tanah agar gembur, minimal 10 hari sebelum tanaman pare ditanam. Buat guludan dengan ukuran lebar 80 cm sampai dengan 120 cm, sedangkan panjangnya dapat mencapai 10 meter atau disesuaikan dengan kondisi lahan yang ada. Antara guludan satu dengan guludan yang lainnya dibuat parit dengan lebar 80 cm dan kedalaman 30 cm. Arah pembuatan guludan sebaiknya membujur dari utara ke selatan dengan maksud agar tanaman mendapat sinar matahari langsung dan penuh untuk proses fotosintesa. Buat lubang tanam dengan panjang 25 cm, lebar 25 cm dan dalam 25 cm (25x25x25) atau bisa juga dengan ukuran 50 x 50 x 50. Jarak antar lubang tanam 1 m x 80 cm atau 100 cm x 100 cm.
G.    Benih/Bibit
Ada dua jenis benih yang dapat dipakai untuk penanaman pare. Jenis pertama adalah benih/ biji yang langsung ditanam dilapang dan yang kedua adalah benih yang telah melalui proses persemaian. Pemakaian kedua jenis ini tergantung pada musim dimana penanaman akan dilakukan. Kalau penanaman dilakukan pada musim penghujan lebih baik penanaman dilakukan dengan menggunakan benih/ biji langsung, karena daya tumbuh benih dilapang pada kondisi tersebut dapat baik. Sedangkan apabila penanaman dilakukan pada musim kemarau sebaiknya penanaman dilakukan dengan menggunakan benih yang telah disemai terlebih dahulu, karena akan terjamin daya tumbuh benih yang akan ditanam dilapang.
Benih sebaiknya ditanam berasal dari tanaman yang sehat, kuat dan mempunyai tingkat produktifitas yang tinggi. Untuk itu disarankan memakai benih yang telah berlabel yang telah direkomendasikan oleh Balai Pengendalian Mutu dan Sertifikasi Benih. Jumlah kebutuhan benih dilapang sebaiknya ditambah 10% dari kebutuhan normal. Misalnya kebutuhan benih untuk 1 Ha dengan jarak tanam 1 x 1 meter lebar guludan 150 cm, panjang guludan 10 meter, maka kebutuhan benih yang direkomendasikan sebanyak 9735 biji. Jadi jumlah benih yang harus disediakan sebanyak 9735 + (10% x 9735) = 10.708 biji atau 2,141 Kg.
H.    Penanaman
Penanaman dapat dilakukan melalui dua cara. Cara pertama benih/ biji langsung ditanam dan cara kedua benih disemaikan terlebih dahulu ditempat terpisah sampai benih tersebut tumbuh beberapa helai daun, baru di pindah dilapang.
I.       Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pemeliharaan tanaman pare dilapang meliputi penyiangan, penyulaman, pembumbunan, pemangkasan, pembungkusan, pembebanan, pembuatan turus dan para-para.
a.       Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk membersihkan semua jenis tanaman yang tumbuh selain tanaman pare. Tanaman jenis lain dapat berupa rumput-rumputan, gulma, dan tanaman lainnya. Pembersihan ini dilakukan disekitar batang/ akar tanaman atau diantara parit-parit yang ada dengan menggunakan tangan (dicabut), kored atau cangkul. Penyiangan tanaman dilakukan untuk mengurangi atau menghindari persaingan antara tanaman pare yang ditanam dengan jenis tanaman lain yang mungkin tumbuh disekitar tanaman pare dalam penyerapan unsur-unsur hara, air dan matahari. Disamping itu penyiangan dilakukan untuk menghindari kemungkinan tumbuhnya hama dan penyakit yang mungkin timbul dari tanaman yang tumbuh selain tanaman pare.
b.      Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan untuk menaikkan tanah yang ada disekitar tanaman pare agar akar tanaman dapat tertutup. Pembumbunan dilakukan setelah penyiangan dilakukan dengan maksud untuk memperbaiki aerasi tanah sekitar akar yang menjadi padat akibat siraman air hujan atau air siraman tanaman.
c.       Penyulaman
Oleh karena pada waktu penanaman ada benih yang tidak tumbuh yang diakibatkan oleh beberapa faktor seperti kualitas benih, daya tumbuh benih, kondisi tanah, atau serangan hama, maka tanaman yang tidak tumbuh tersebut perlu diganti dengan tanaman lain yang sehat dan kuat (disulam). Penyulaman dilakukan sebaiknya pada waktu bibit tanaman berumur 7 - 10 hari setelah tanam.
d.      Pemangkasan
Pemangkasan tanaman pare dilakukan untuk mengontrol pertumbuhan batang utama. Tinggi ideal batang utama tanaman pare adalah 2 - 3 meter. Jika panjangnya melebih dari itu, tanaman tidak produktif lagi oleh karena itu tanaman perlu dipangkas. Tunas yang akan tumbuh dari hasil pemangkasan tersebut dialihkan kesamping melalui para-para. Sebagai awal perambatan tunas yang tumbuh tersebut dapat digunakan tali.
e.       Pembungkusan
Untuk menghasilkan buah pare yang mulus dan permukaan kulit tidak bolong, maka sebaiknya dilakukan pencegahan melalui pembungkusan buah pare. Tindakan pembungkusan buah pare ini dimaksudkan adalah untuk mencegah serangan lalat buah yang menyerang buah pare pada waktu usia muda. Bahan pembungkus dapat digunakan pembungkusan adalah pada waktu tanaman telah menghasilkan buah pare dengan ukuran batang korek api, atau kurang lebih berumur kira-kira 1,5 bulan.
J.       Pemupukan
Salah satu bagian dari pemeliharaan tanaman pare adalah pemupukan. Pemupukan dilakukan untuk mendapatkan tanaman sehat, kuat dan dapat berproduksi sesuai dengan potensi yang ada dalam tanaman tersebut. Pemupukan dasar dilakukan pada 1 - 2 minggu sebelum tanaman pare ditanam, atau dilakukan pada saat pengolahan tanah atau pada waktu pembuatan lubang tanam. Beberapa petani sayuran di Rasau Jaya II, pemberian pupuk dasar dilakukan dengan cara membenamkan sebanyak 2 - 3 kg pupuk kandang yang sudah matang kedalam lubang tanam dan biasanya ditambah 15 - 20 gram pupuk NPK perlubang tanam. Pemupukan susulan pertama dilakukan setelah tanaman telah berumur 3 minggu.
Dosis pemupukan diberikan sangat tergantung pada jenis tanah dan iklim setempat dimana tanaman pare ditanam. Untuk jenis tanah yang berpasir kombinasi pupuk urea, TSP, dan KCI yang diberikan sebaiknya dengan perbandingan 1 : 2 : 2, sedangkan untuk jenis tanah liat sebaiknya diberikan pupuk dengan kombinasi urea, TSP, dan KCl sebanyak 1 : 2 : 1. Pengalaman dari petani Bambu Apus, Jakarta Timur kombinasi urea, TSP dan KCl diberikan sebanyak 2 : 2 : 8. Setiap tanaman diberikan sebanyak 10 – 15 gram/pertanaman. Jadi apabila diberikan 10 gram pertanaman maka banyaknya urea, TSP dan KCl yang diberikan pada perbandingan 1 : 2 : 2 adalah urea sebanyak 20 Gram, TSP 40 dan KCl 40 gram. Demikian halnya dengan kombinasi 1: 2 : 1, Urea diberikan 2,5 gram, TSP 5 gram dan KCl 2,5 gram. Pupuk susulan kedua diberikan 2 minggu setelah pemupukan susulan pertama dilakukan.
Banyaknya pupuk yang diberikan 0,5 dari dosis yang diberikan pada pemupukan susulan Pertama. Dapat juga diberikan tambahan pupuk seperti NPK. NPK diberikan 2 minggu setelah pemupukan susulan pertama dilakukan dan dilanjutkan dengan interval dua minggu sampai tanaman pare berumur empat bulan. Dosis NPK yang diberikan sebanyak 5 gram pertanaman. Penempatan pupuk yang diberikan kepada tanaman pare adalah ber-jarak antara 10 - 15 cm dari akar dan kedalaman 3-5 cm.
K.    Pembuatan Turus dan Para-para
Tanaman pare merupakan tanaman yang merambat dan menjalar, oleh karena itu diperlukan suatu tempat dimana nantinya buah pare tersebut dapat bergantung dengan baik, sehingga pertumbuhan buah pare dapat maksimal. Turus dibuat untuk memanjat batang utama pare, sedangkan para-para digunakan untuk menjalarnya tunas-tunas dari batang utama yang nantinya akan menghasilkan buah pare. Tinggi turus dan para-para berkisar 1,5 sampai 2 meter. Hal ini dengan mempertimbangkan agar mudah dalam pemeliharaan tanaman terutama pada waktu panen dan mudah dalam melakukan penyiangan dan pembumbunan serta mudah dalam mengontrol tanaman dari gangguan hama dan penyakit tanaman. Berbagai macam cara dan bentuk pembuatan turus dan para-para. Bahan yang dipakai sebaiknya bambu dengan ukuran sedang. Sebagai penghubung antara tanaman satu dengan yang lainnya diberikan tali.
L.     Panen
Pemetikan buah pare sangat tergantung pada pemanfaatan buah pare tersebut. Apabila pare yang akan dipanen digunakan untuk konsumsi maka sebaiknya pilih pare yang bintil-bintil dan keriputnya masih agak rapat dengan galur-galur yang belum melebar. Panjangnya antara 25-30 cm dan diameternya 3-5 cm. Apabila pare yang dipetik digunakan untuk benih maka pilih pare yang besar, sehat dan matang sempurna. Tanaman pare yang telah berumur 1,5 bulan biasanya telah berbunga dan diharapkan 1 bulan kemudian buah pertama dapat dipetik. Untuk panen kedua, ketiga dan seterusnya dengan interval 6 - 7 hari. Kalau keadaan tanaman subur maka tanaman pare dapat di panen selama 4 bulan.
Cara pemanenan harus diperhatikan dengan baik karena hal ini menentukan kualitas tanaman pare yang akan dipasarkan. Pemetikan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan alat potong yang tajam. Hindari dengan cara menarik atau memilin tangkai pare, karena dapat menyebabkan memar pada tangkai yang pada akhirnya akan menarik cendawan atau penyakit lain kedalam bagian tangkai yang memar tadi. Hasil pemetikan ditaruh keranjang atau tempat yang bersih dan disusun dengan berselang-seling dan sejajar.
M.   Pasca Panen
Setelah dipetik sebaiknya pare sudah mulai ditaruh pada suatu wadah. Untuk keperluan pasar tradisional sebaiknya digunakan karung-karung yang bersih. Pare disusun berdiri dalam karung, hal ini menghindari pare tertimbun dengan beban berat diatasnya. Pada waktu mengangkat atau menaruh jangan sampai dilempar untuk menghindari memar pada tanaman pare. Untuk memenuhi konsumsi pasar supermarket sebaiknya dikemas dengan menggunakan plastik tipis dan tembus pandang. Sebelum dikemas dengan plastik sebaiknya pare dibersihkan dari kotoran yang menempel pada pare, sehingga diharapkan penampilannya baik bersih dan rapi.
















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Dari hasil praktikum dan laporan yang kami buat ini dapat di simpulkan sebagai berikut :
1.      Belum ada teknologi yang tepat untuk pengolahan lahan gambut sebagai lahan budi daya perkebunan seperti kelapa sawit dalam meningkatkan hasil produksi.
2.      Kurangnya perhatian pemerintah dalam pengolahan lahan gambut sebagai lahan budi daya pertanian, tidak ada penyuluhan yang bergerak dalam pengolahan lahan gambut sebagi lahan pertanian.
3.      Minimnya pengetahuan petani dalam pengolahan lahan gambut
4.      Tata air dan drainase belum dapat menjaga keseimbangan tanah gambut.
3.2 Saran
            Sebaiknya dalam melakukan praktikum teknik pengolahan lahan basah dan gambut ini mahasiswa/i di bagi dalam melakukan praktikum satu kelas yang di bagi menjadi beberapa kelompok agar praktikum dengan tertib dan memudahkan mahasiswa/i untuk melakukan wawancara dengan petani.







DAFTAR PUSTAKA
Agus Fahmuddin, Hairiah Kurniatun, dan Mulyani Anny. 2011. Pengukuran Cadangan Karbon Tanah Gambut. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. 1996. Usaha tani tanaman pare.
Kartikawat.R dan Setyanto.P.2011. Ameliorasi Tanah Gambut Meningkatkan Produksi Padi Dan Menekan Emisi Gas Rumah Kaca Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.
Lingga, P. 1986. Petunjuk penggunaan pupuk. PT. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Noor, M. 2000. Pertanian lahan gambut: potensi dan kendala. Kanisius, Yogyakarta.
Prastowo, K., Moersidi S., Edi Santoso dan L. H. Sibuea. 1993. Pengaruh kompos diperkaya dengan pupuk Urea, TSP, P-Alam, KCl dan Kapur terhadap tanaman. Prosiding Pertemuan Teknis. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.
Ratmini, Sri.2012.Karakteristik dan Pengelolaan Lahan Gambut  untuk Pengembangan Pertanian. Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya Palembang.
Rukmana R. 1997. Budidaya Pare. Yogyakarta : Kanisius.
Sasli, Iwan. 2011. Karakterisasi Gambut dengan Berbagi Bahan Amelioran dan Pengaruhnya Terhadap Sifat Fisik dan Kimia Guna Mendukung Produktivitas Lahan Gambut. Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura.
Sastrapradja S. 1977. Sayur-sayuran, Pare Pahit (Momordica charantia L.) Bogor : Lembaga Biologi Nasional-LIPI.






P1020051.JPG
P1020065.JPG


LAMPIRAN GAMBAR PRAKTIKUM







P1020052.JPG,P1020125.JPG
P1020112.JPG
P1020113.JPG

Kebun vare ( milik pak Sukarno )
saluran drainase